Bahasa
merupakan kunci untuk membuka khasanah pengetahuan. Hanya dengan bahasalah kita
dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Walaupun
bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat
berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengharuskan kita
menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia kedalam bahasa indonesia.
Dengan adanya informasi ilmiah dalam bahasa indonesia tersebut, pasti akan ada
kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa
indonesia sebagai bahasa ilmiah. Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan
dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk
memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar orang, termasuk
komunikasi ilmuan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.
Indeks
kinerja ilmiah adalah ukuran kuantitatif sebagai referensi dasar kebijakan
dibidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Diperlukan sebuah instrumen.
Kajian pengukuran semacam ini disebut sebagai scientometrics. Instrumen dalam
bentuk indeks kinerja ilmiah ini sangat penting untuk melakukan pengukuran atas
usulan, target dan pencapaian aneka aktivitas iptek. Dengan instrumen semacam
ini diharapkan seluruh proses bisa dilakukan dengan transparan dan obyektif.
Secara global, sudah banyak instrumen yang diajukan. Namun hampir semuanya
difokuskan pada usaha untuk mengukur konstribusi iptek dalam kehidupan
masyarakat, seperti industri dan lain-lain. Sebaliknya sangat sedikit kajian
yang mengarah pada indeksisasi aktivitas itu sendiri. Ini dikarenakan proses
pengukuran kinerja ilmiah di negara-negara maju sudah dilakukan dengan relati
sangat obyektif akibat komunitas ilmiah disetiap bidang yang sudah mapan dan
matang. Sebaliknya dinegara berkembang seperti indonesia, pengukuran kinerja
iptek sangat sulit dilakukan akibat keterbatasan komunitas disetiap bidang,
ditambah kematangan komunitas secara ilmiah yang umunya belum tercapai akibat
budaya ilmiah yang relatif pendek. Maksudnya, dihampir semua negara peroses
pengajuan anggaran iptek secara garis besar bisa menjadi 2 tahapan utama :
1. Tahap
politis
Proses pengajuan anggaran di level tertinggi
penyelenggaraan negara, yaitu pengajuan oleh pengelola anggaran iptek utama ke
perlemen. Pengelola anggaran utama bisa lembaga penelitian utama
2. Tahap
politis : Proses pengajuan anggaran di level tertinggi penyelenggara negara,
yaitu pengajuan oleh pengelola anggaran iptek utama ke parlemen. Pengelola
anggaran utama bisa lembaga penelitian utama seperti LPND di Indonesia (LIPI,
dll), Kementerian Riset (KRT), lembaga mandiri (NSF di Amerika, DFG di Jerman,
JICA di Jepang, dll). Pada tahapan ini substansi proposal kegiatan iptek
umumnya bersifat multi disiplin dan bidang.
3. Tahap
ilmiah : Proses pengajuan anggaran oleh pelaksana riil aktivitas iptek ke
pengelola anggaran iptek utama diatas. Pada tahapan ini substansi kegiatan
iptek sudah fokus pada topik-topik tertentu yang spesifik.
Pada tahap pertama diatas,
argumentasi dalam rangka justifikasi dilakukan dalam bahasa politis. Bahasa
politis ditandai dengan argumentasi berbasis capaian jangka pendek dan riil
dalam konteks "kontribusi langsung" ke publik. Sebaliknya, pada tahap
kedua justifikasi harus berdasar argumentasi ilmiah. Oleh karena itu, di level
ini diperlukan anggota komunitas ilmiah yang mapan untuk melakukan penilaian
secara obyektif dan dengan landasan ilmiah sesuai bidang kajian.
FUNGSI BAHASA
INDONESIA SECARA UMUM
Fungsi umum bahasa indonesia
adalah sebagai alat komunikasi sosial. Bahasa pada dasarnya sudah menyatu dengan
kehidupan manusia. Aktivitas manusia sebagai anggota masyarakat sangat
bergantung pada penggunaan bahasa masyarakat setempat. Gagasan,
ide,pikiran,harapan dan keinginan disampaikan lewat bahasa.
Selain fungsi bahsa di atas,
bahasa merupakan tanda yang jelas dari kepribadian manusia. Melalui bahasa yang
digunakan manusia, maka dapat memahami karakter, keinginan, motif, latar
belakang pendidikan, kehidupan sosial, pergaulan dan adat istiadat.
Menurut Sumiati
Budiman (1987 : 1) mengemukakan bahwa fungsi bahasa dapat dibedakan berdasarkan
tujuan, yaitu :
1. Fungsi Praktis :
Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi
dan interaksi antar anggota masyarakat dalam pergaulan hidup
sehari-hari.
2. Fungsi artistik
Bahasa digunakan sebagai alat untuk
menyampaikan rasa estetis (keindahan) manusia melalui seni sastra.
3. Fungsi edukatif
Bahasa digunakan sebagai alat
menyampaikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Fungsi politis
Bahasa digunajan sebagai alat untuk
mempusatkan bangsa dan untuk menyelenggrakan administrator pem
erintahan.
Mencermati keadaan dan
perkembangan dewasa ini, semakin terasakan betapa besar fungsi dan peranan
bahasa dalam kehidupan manusia. Tanpa bahasa kehidupan manusia terasa hampa dan
tidak berarti. Melalui peran bahasa, manusia dapat menjadikan dirinya menjadi
manusia berbudi pekerti, berilmu dan bermartabat tinggi.
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi
- bahasa merupakan
akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
- Komunikasi tidak
akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami.
- Penggunaan bahasa sebagai alat
komunikasi, memiliki tujuan tertentu yaitu agar kita dipahami oleh orang lain.
Jadi dalam hal ini respons pendengar atau lawan komunikan yang menjadi
perhatian utama kita.
Bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan alat
untuk merumuskan maksud kita. Dengan komunikasi, kita dapat menyampaikan
semua yang kita rasakan, pikirkan, dan ketahui kepada orang lain.Dengan
komunikasi, kita dapat mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh
nenek moyang kita dan apa yang telah dicapai oleh orang-orang sejaman kita.
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi melalui lisan
(bahsa primer) dan tulisan (bahasa sekunder). Berkomunikasi melalui lisan
(dihasilkan oleh alat ucap manusia), yaitu dalam bentuk symbol bunyi, dimana
setiap simbol bunyi memiliki cirri khas tersendiri. Suatu simbol bisa
terdengar sama di telinga kita tapi memiliki makna yang sangat jauh berbeda.
Misalnya kata ’sarang’ dalam bahasa Korea artinya cinta, sedangkan dalam bahasa
Indonesia artinya kandang atau tempat.
Tulisan adalah susunan dari
simbol (huruf) yang dirangkai menjadi kata bermakna dan dituliskan. Bahasa
lisan lebih ekspresif di mana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat
bercampur menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam
pisau / silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak
sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara / target komunikasi.
Bahasa sebagai sarana komunikasi
mempunyaii fungsi utama bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian
pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Keterikatan dan keterkaitan
bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring
perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat. Perubahan bahasa
dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa
kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Terutama pada
penggunaan Fungsi komunikasi pada bahasa asing Sebagai contoh masyarakat
Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang
Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk
penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran. Jadi bahasa sebagai alat komunikasi
tidak hanya dengan satu bahasa melainkan banyak bahasa.
Contohnya :
Misalnya berupa :
Alat-alat itu
digunakan untuk berkomunikasi misalnya gerak badaniah, alat bunyi-bunyian,
kentongan, lukisan, gambar, dsb).
Contohnya :
- bunyi tong-tong
memberi tanda bahaya
- adanya asap
menunjukkan bahaya kebakaran
- alarm untuk tanda
segera berkumpul
- bedug untuk tanda
segera melakukan sholat
- telepon genggam
untuk memanggil orang pada jarak jauh
- simbol – tanda
stop untuk pengguna jalan, simbol laki-laki dan perempuan bagi pengguna toilet.
- gambar peta yang
menunjukkan jalan
- suasana gemuruh
kentongan dipukul tanda ketika ada bahaya
- adanya asap tampak
dari kejauhan pertanda kebakaran
- bunyi alarm
(suasana tanda bahaya gempa bumi/bencana alam) dsb.
contoh dalam kehidupan sehari hari :
misalkan seorang satpam perumahan
berjaga-jaga/ronda pada malam hari, pada saat sudah mendekati jam 12.00
malam satpam tersebut membunyikan kentongan yang bertanda bahwa waktu sudah
tepat pukul 12.00 malam. Dan timbul timbal balik antara satpam sama orang-orang
disekitar perumahan.setiap orang jadi lebih mengerti tanda waktu pergantian
tersebut
Jadi, bahasa yang dipakai satpam tersebut berupa
kentongan yang memberikan pertanda sesuatu akan terjadi/ sesuatu yang sudah
mestinya dilakukan.
Fungsi bahasa sebagai alat untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan
Menurut Felicia
(2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering
digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya
kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu
untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya,
sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa.
Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi lisan atau
nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa.
Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis
atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’
bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung
kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar
dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke
dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif.
Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu.
Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita
selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar
dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.
Pada dasarnya, bahasa
memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang,
yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk
berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial
dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan
kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya arus
globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan
pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan
budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa
Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas,
baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan
istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia.
Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai
dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu,
termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana
berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo,
1993, 1995).
Menurut Sunaryo
(2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat
tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya,
ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan
produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana
pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa
peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat
berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa
sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam
menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa
merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil pendayagunaan daya
nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah
pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai
wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat
modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya
sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.
NAMA : MUCHLISA RENHOAT
NPM : 24110534
KELAS : 3KB04
TUGAS : SOFTSKIL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar